Jepara, mtsnurulilmi.sch.id – Di tengah semilir angin pagi yang menyejukkan Bategede, Aula MTs Nurul Ilmi tampak hidup dengan semangat baru. Hari itu bukan sekadar agenda pelatihan biasa, tapi menjadi awal dari babak baru pembinaan guru di bawah kepemimpinan pengawas yang juga membawa energi segar: Drs. Samudi.
Workshop bertajuk “Penyusunan Perangkat Pembelajaran Mendalam dan Berbasis Cinta” ini diikuti oleh seluruh Bapak/Ibu Dewan Guru dari MTs dan MA Nurul Ilmi. Namun lebih dari sekadar teknis penyusunan perangkat ajar, sesi demi sesi justru mengalirkan makna yang dalam tentang jati diri seorang guru.
Dalam penyampaiannya, Drs. Samudi memantik perenungan lewat kutipan yang menggelitik namun penuh makna:
“Guru itu harus bisa digugu, tapi tidak semua harus ditiru.”
Pernyataan ini mengundang senyap sejenak, menyadarkan bahwa menjadi teladan bukan berarti segala tingkah laku boleh diikuti. Ada tanggung jawab moral dalam setiap tindakan, dan seorang guru harus menjaga batas itu.
Tak berhenti di sana, beliau juga menyinggung hal yang sangat dekat dengan realitas para pendidik:
“Gaji itu tetap. Tapi rezeki? Bisa mengalir—kadang besar, kadang kecil.”
Sebuah kalimat sederhana, namun membuka mata banyak peserta bahwa pengabdian sebagai guru bukan tentang angka, melainkan tentang keberkahan dan pengaruh yang jauh lebih luas.
Dari pihak Yayasan Islam Nurul Ilmi, Slamet, S.Ag., M.Pd.I, turut memberikan sambutan hangat sekaligus harapan besar.
“Kami berharap seluruh peserta mengikuti workshop ini dengan serius. Sudah cukup lama guru-guru kami tidak mendapatkan pembinaan dan pelatihan sesuai aturan baru. Kami mohon Pak Samudi membagikan semua ilmunya untuk kemajuan lembaga ini,” ungkapnya penuh harap.
Sepanjang sesi, peserta tampak antusias. Mereka tidak hanya diajak memahami bagaimana menyusun perangkat pembelajaran yang lebih bermakna, tetapi juga menyelami kembali alasan mendasar mengapa mereka memilih jalan sebagai guru.
Workshop ini menjadi lebih dari sekadar rutinitas tahunan. Ia menjelma sebagai ruang pembaruan ruh pendidikan, penyegaran semangat, dan pengingat bahwa dalam mengajar, yang paling penting bukan hanya kurikulum, tapi cinta dan keteladanan.
Dengan dimulainya pembinaan ini, MTs dan MA Nurul Ilmi seolah mendapat suntikan energi baru. Bersama Drs. Samudi, lembaga ini melangkah ke depan dengan visi yang lebih kuat—mendidik bukan hanya otak, tetapi juga hati.
(Lim)
1 Komentar
Maul
Minggu, 19 Oktober 2025Semoga berkah